Oleh: Dzul Agung 

Tahun 2026 datang seperti biasa dengan hitungan mundur, kembang api, dan ucapan harapan yang bertebaran di mana -mana, di balik semua itu, ada kegelisahan yang tidak ikut berganti kalender. Ia tinggal, menetap, dan diam-diam bertanya "apakah kita benar-benar bergerak ke arah yang lebih baik?"

Beberapa waktu lalu, kutipan Pandji Pragiwaksono “polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita memaafkan koruptor” beredar luas dan memicu perdebatan. Ada yang marah, ada yang membela, ada pula yang memilih diam. Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar kritik keras atau satire. Ia terdengar seperti suara frustrasi warga masyarakat yang terlalu sering melihat kejanggalan, tetapi jarang mendapatkan kejelasan.

Kita hidup di negeri yang kerap menyuguhkan ironi. Kasus kekerasan oleh aparat masih muncul dari waktu ke waktu. Korupsi terus dibicarakan sebagai musuh bersama, tetapi para pelakunya sering kali diperlakukan begitu lunak. Demokrasi berjalan, tetapi rasa keadilan tertinggal jauh di belakang. Lebih mengkhawatirkan, semua itu perlahan dianggap hal biasa yang terus mendapatkan toleransi.

Barangkali inilah yang paling berbahaya, saat ketidakadilan tak lagi mengejutkan, kematian, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran etika hanya menjadi berita singkat yang segera tenggelam oleh isu baru yang dikemas untuk menyita perhatian publik. Saat itulah nurani mulai tumpul, dan negara kehilangan cermin untuk tahu dirinya sendiri.

Sebagai masyarakat sipil yang sehari-hari berinteraksi dengan dunia pendidikan dan masyarakat, kegelisahan ini terasa nyata. Banyak anak muda tumbuh tanpa ruang aman untuk bertanya dan berpikir kritis. Mereka diajarkan patuh, tetapi jarang diajak memahami. Nilai sering diukur lewat angka, sementara keberanian, empati, dan kejujuran nyaris tak pernah dibahas secara serius.

Pendidikan seharusnya menjadi tempat pertama menanamkan kesadaran bahwa kekuasaan harus diawasi, hukum harus adil, dan manusia harus diperlakukan sebagai mana hak asasi mereka masing - masing. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan generasi yang terbiasa diam, atau lebih buruk lagi, terbiasa membenarkan ketidakadilan.

Memasuki tahun baru, saya tidak ingin berharap terlalu muluk. Saya hanya ingin kita tidak semakin kebal terhadap rasa salah, kritik tidak selalu dianggap sebagai ancaman, kekuasaan masih mau mendengar, dan masyarakat masih berani berbicara.

Tahun baru seharusnya menjadi jeda untuk bercermin, bukan sekadar ritual tahunan. Jika suara-suara gelisah terus muncul, itu bukan karena bangsa ini penuh kebencian, tetapi karena masih ada harapan yang ingin dijaga. Di awal tahun ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan janji manis, melainkan kejujuran untuk mengakui yang salah, keberanian untuk memperbaiki, dan kesediaan untuk tetap peduli. Karena masa depan tidak lahir dari sikap acuh, tetapi dari kegelisahan yang terus dirawat agar tidak berubah menjadi keputusasaan.

Kita sebagai masyarakat yang memberi mandat kepada pemangku kebijakan, harus terus memantau sistematika kelembagaan bangsa ini berjalan, terus hidup dengan menatap baik arah bangsa ini, karena segala perbaikan di mulai dari kesadaran dan jika kita telah sadar, maka mari terus bersuara.