PERSGRAMATIKA.COM.MAKASSAR — Pementasan AKSARA yang digelar oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) berlangsung semarak dan penuh antusias. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa untuk menghadirkan karya sastra dalam bentuk drama reading, film, hingga teater yang memukau penonton. (16/05/2026)
Pada sesi PBSD, mahasiswa angkatan 2023 menampilkan film berjudul “Lakuna” di bawah arahan Aswati Asri. Penampilan tersebut tidak hanya menghadirkan cerita yang menarik, tetapi juga memperlihatkan kreativitas mahasiswa dalam mengolah karya visual yang sarat makna.
Suasana semakin hidup dengan penampilan Bengkel Sastra, pembacaan puisi oleh Aswati Asri, serta penampilan lagu dari Fitriansal Sinauleng. Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi screening dan diskusi bersama Muh. Lutfi Lukman, Fitriansal Sinauleng, dan Aswati Asri.
Sementara itu, sesi PBSI menghadirkan tiga dramatic reading, yakni “Ande Ande Lumut” oleh PBSI C, “Perang” oleh PBSI D, dan “Laskar Pelangi” oleh PBSI E di bawah bimbingan Asis Nojeng. Penampilan para mahasiswa berhasil menghidupkan cerita melalui penghayatan karakter dan kekuatan dialog di atas panggung.
PBSI juga menampilkan tiga karya film berjudul “Titik”, “Sketsa”, dan “Kami Bukan Sarjana Kertas” yang dibimbing oleh Fitriansal Sinauleng. Selain itu, teater “Bersama Wajah Setan” oleh PBSI G menjadi salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian penonton pada malam pementasan.
Koordinator Prodi PBSD, Syamsudduha, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra tidak boleh berhenti pada teori di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa harus diberikan ruang untuk menghadirkan karya yang mampu berbicara kepada masyarakat.
“Bahasa dan sastra bukan sekadar dipelajari, tetapi juga harus diwujudkan dalam karya yang lahir dari kreativitas dan keberanian mahasiswa,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan koordinator Prodi PBSI, Abdul Haliq. Ia menilai bahwa sastra akan lebih bermakna ketika dihidupkan melalui pertunjukan dan pengalaman langsung mahasiswa.
“Karya sastra tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu dihayati dan dipentaskan agar pesan di dalamnya benar-benar terasa,” ungkapnya.
Di balik suksesnya kegiatan tersebut, Ketua Panitia AKSARA, A. Aril Maulana, menyebut pementasan ini sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi mahasiswa. Menurutnya, AKSARA menjadi wadah untuk melatih keberanian, kreativitas, dan kerja sama dalam menghasilkan sebuah karya pertunjukan.
Melalui AKSARA, mahasiswa tidak hanya belajar memahami sastra secara teori, tetapi juga membuktikan bahwa karya seni dapat menjadi media ekspresi, refleksi, dan apresiasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan terus berkembang sebagai panggung kreativitas mahasiswa di masa mendatang.
Reporter: Aliyah Suci Pradani NR

