Aswad Syam Berbagi Tips Menulis Feature dan Jurnalisme Sastra yang Menarik


PERSGRAMATIKA.COM.GOWA — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menyelenggarakan Diklat Jurnalistik di Rumah Adat Jeneponto, Benteng Somba Opu, Sabtu (18/10/2025).

Kegiatan ini menghadirkan pemateri hebat Aswad Syam, jurnalis asal Bone yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional PT Herald Indonesia Media (Herald.id), sebagai pemateri dengan topik "Feature & Jurnalisme Sastrawi.”

Dalam pemaparannya, pria yang akrab di sapa Aswad menjelaskan bahwa dalam dunia jurnalistik, berita keras (hard news) berfokus pada kecepatan dan fakta. Namun, ada bentuk penulisan yang memberi ruang lebih luas bagi pendalaman emosi, suasana, dan detail kehidupan — yaitu feature dan jurnalisme sastra.

“Tulisan feature bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga mengajak pembaca hadir di tempat kejadian, merasakan suasana, dan memahami makna,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aswad memaparkan beberapa langkah praktis dalam menulis feature dan jurnalisme sastra, antara lain:

1. Menemukan sudut pandang (angle) yang unik.

2. Melakukan observasi lapangan yang mendalam.

3. Mengumpulkan kutipan yang hidup.

4. Menulis dengan struktur cerita.

5. Menyunting bahasa secara cermat.

Diskusi semakin menarik ketika salah satu pengurus Himaprodi PBSI, Vifi Aviliani, mengajukan pertanyaan kritis tentang bagaimana jurnalisme sastra bisa menggabungkan antara fakta dengan gaya penulisan yang lebih sastra dan naratif?

Menanggapi hal tersebut, Aswad menjelaskan bahwa jurnalisme sastra tetap berpegang pada fakta, namun disajikan dengan gaya bercerita yang lebih hidup.

“Kita harus turun ke lapangan, menggali data, lalu menemukan angle yang tepat. Dari situ, buatlah judul yang menarik karena itu jendela tulisan. Susun alur seperti cerita dan gunakan bahasa metaforis. Dalam jurnalisme sastra, opini boleh hadir karena setiap orang punya cara pandang berbeda,” tegasnya.

Sebagai penutup, Aswad menegaskan bahwa dengan mengaktifkan seluruh indera seorang reporter tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga menghadirkan pengalaman bagi pembaca. Dalam dunia yang serba cepat, tulisan yang memiliki suara, rasa, dan jiwa akan selalu diingat.


Reporter: Dahlia