PERSGRAMATIKA.COM.MAROS — Kemampuan membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman secara strategis menjadi fokus materi Analisis SWOT dalam rangkaian kegiatan Sinergi Intelektual Temu Sambut Mahasiswa (SINTESA) yang dilaksanakan oleh HIMAPRODI PBSI DEMA JBSI FBS UNM, Sabtu (07/02/2026).
Materi tersebut disampaikan oleh Kakanda Muhammad Musawir, yang menekankan bahwa Analisis SWOT merupakan alat penting dalam organisasi untuk memahami kondisi internal dan eksternal agar perencanaan program kerja dapat disusun secara tepat dan terarah.
Dalam pengantar materinya, pemateri menegaskan pentingnya perencanaan strategis dalam setiap proses berorganisasi.
“Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Mahasiswa harus menyusun strategi agar tidak berjalan tanpa peta,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan Analisis SWOT adalah mengetahui posisi strategis organisasi sehingga kekuatan dan peluang dapat dimaksimalkan, sementara kelemahan dan ancaman dapat diminimalkan secara sadar dan terukur.
Lebih lanjut, Kakanda yang akrab disapa Sawwir memaparkan komponen utama Analisis SWOT, yakni Strengths sebagai keunggulan internal, Weaknesses sebagai hambatan internal, Opportunities sebagai peluang eksternal yang dapat dimanfaatkan, serta Threats sebagai ancaman eksternal yang perlu diantisipasi.
Selain itu, ia menjelaskan empat strategi yang dapat diambil dari Analisis SWOT, yaitu SO (memanfaatkan kekuatan untuk peluang), WO (memperbaiki kelemahan untuk meraih peluang), ST (menggunakan kekuatan menghadapi ancaman), dan WT (meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman).
Dalam sesi refleksi, salah satu mahasiswa baru, Arini (PBSI, Kelompok 10), menyampaikan pandangannya setelah menerima materi. Menurutnya, Analisis SWOT membantu memahami kondisi diri secara lebih jujur dan terarah.
“Melalui Analisis SWOT, saya menyadari kekuatan diri seperti kemampuan beradaptasi dengan orang baru, sekaligus kelemahan berupa kurangnya rasa percaya diri. Di sisi lain, ada peluang membangun relasi, namun juga ancaman ketika banyak momen terlewat karena terlalu banyak kenalan,” ujarnya.
Menutup materi, pemateri menegaskan bahwa mahasiswa yang hebat bukanlah yang sekadar sibuk dalam banyak kegiatan, melainkan mereka yang sadar akan kekuatan dirinya dan cerdas mengelola kelemahannya sebagai bekal berproses.
Reporter: Andi Afridah Auliyah

