Bedah Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”: Menggugat Pendidikan yang Diam-Diam Menindas

 

PERSGRAMATIKA.COM.MAKASSAR — Kesadaran kritis tentang pendidikan lahir dari dialog yang berani mempertanyakan sistem yang selama ini dianggap normal. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Bedah Buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMAPRODI PBSI) pada Rabu, (04/02/2026), melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat PBSI, pengurus HIMAPRODI PBSI, serta alumni PBSI. Hadir sebagai pemantik diskusi, Kakanda Aan Abdullah membingkai pembahasan dengan kritik tajam terhadap praktik pendidikan yang kerap kehilangan sisi kemanusiaannya.

Dalam pengantar diskusi yang reflektif, Kakanda Aan mengajak peserta untuk meninjau ulang pengalaman belajar yang selama ini dijalani. Ia menegaskan bahwa penindasan dalam pendidikan sering kali berlangsung secara halus dan tidak disadari.

“Mereka tahu rasanya ditindas, tetapi justru memilih untuk kembali menindas. Dalam proses pembelajaran, kita sering merasa belajar, padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar mencapai belajar yang maksimal,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memantik refleksi kritis peserta tentang relasi kuasa dalam pendidikan, di mana buku Pendidikan Kaum Tertindas dihadirkan sebagai cermin realitas pendidikan yang masih berlangsung hingga kini. Diskusi pun berjalan hangat dan interaktif, menjadi ruang pembebasan nalar serta keberanian berpikir kritis

Salah satu peserta, St. Zahra, mengungkapkan kesan mendalam setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa bedah buku ini memberikan pengalaman reflektif yang jarang ditemui dalam proses belajar formal.

“Kegiatan ini membuat saya sadar bahwa kita tidak boleh menjadi bagian dari penindasan, sekecil apa pun itu. Saya banyak mengambil pembelajaran, terutama tentang bagaimana pendidikan seharusnya memanusiakan, bukan menekan,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, HIMAPRODI PBSI menegaskan komitmennya untuk menjadikan bedah buku sebagai ruang literasi kritis, bukan sekadar agenda akademik. 


Reporter: Nurul Ainin Ramadhani