Kerangka Berpikir Ilmiah: Menumbuhkan Logika, Sikap Kritis, dan Kesadaran Mahasiswa

 

PERSGRAMATIKA.COM.MAROS — Berpikir ilmiah sebagai fondasi pembentukan logika dan kesadaran kritis mahasiswa menjadi inti materi “Kerangka Berpikir Ilmiah” dalam rangkaian kegiatan SINTESA 2025 yang dilaksanakan oleh HIMAPRODI PBSI DEMA JBSI FBS UNM, Sabtu (07/02/2026).

Materi tersebut disampaikan oleh Kakanda Muh. Alpian, yang akrab disapa Pian, dengan menekankan bahwa berpikir ilmiah merupakan proses berpikir yang sederhana, tetapi tersusun secara logis dan sistematis, serta didasarkan pada teori, fakta, dan observasi untuk memecahkan masalah secara ilmiah.

Dalam pemaparannya, Kakanda Pian menguraikan langkah-langkah metode ilmiah yang meliputi teori, fakta, dan observasi, serta pentingnya menyusun hipotesis sebelum menarik kesimpulan. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak tergesa-gesa dalam menilai suatu persoalan dan tidak mudah menerima informasi secara sepihak.

“Jangan mendengar dari satu pihak, karena kita bisa menjadi penjahat di cerita orang lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pian menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis perlu terus dilatih untuk menghadapi berbagai bentuk informasi menyesatkan, seperti fitnah, propaganda, dan hoaks. Menurutnya, kebenaran hanya dapat dipertanggungjawabkan jika terdapat keselarasan antara ide dan realitas.

Ia juga memaparkan kriteria kebenaran yang meliputi kebenaran logis, kebenaran empirik, dan kebenaran metafisik, serta tahapan pengetahuan manusia yang berkembang dari kepercayaan mitos menuju cara berpikir logis. Selain itu, Pian menjelaskan tingkat kesadaran manusia yang mencakup naif, magis, dan kritis sebagai gambaran kualitas cara berpikir seseorang.

Diskusi berlangsung secara interaktif, disertai cerita reflektif yang memancing partisipasi peserta. Salah satu cerita yang disampaikan Pian adalah kisah tentang seorang ulama dan seorang sopir. Dalam kisah tersebut, ulama justru masuk neraka karena dakwahnya tidak membuat jamaah mengingat Tuhan, sementara sopir masuk surga karena tindakannya membuat para penumpang selalu mengingat Tuhan.

Salah satu peserta, Nurhayati (Kelompok 8), mengungkapkan pandangannya setelah mengikuti materi tersebut. Ia menilai bahwa materi yang disampaikan membantu mahasiswa memahami esensi berpikir ilmiah secara lebih sederhana dan aplikatif.

“Berpikir ilmiah itu harus didasarkan pada fakta dan data, serta tersusun secara sistematis,” ujarnya.

Menutup materinya, Pian mengapresiasi ketahanan mahasiswa yang tetap mengikuti kegiatan meskipun berada dalam kondisi kurang nyaman. Ia juga menyinggung pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengingatkan agar mahasiswa tidak terbiasa memendam masalah. Sebagai penutup, ia membacakan moto hidupnya,

 “Hidup dapat memberi segala kepada yang mencari tahu dan pandai menerima,” sebagai penguatan sikap proaktif dan rendah hati dalam belajar.

Reporter: Nurul citra diafasha