PERSGRAMATIKA.COM.MAROS — Manajemen konflik dan negosiasi konstruktif menjadi salah satu materi penting dalam rangkaian kegiatan SINTESA 2026 yang dilaksanakan oleh HIMAPRODI PBSI DEMA JBSI FBS UNM, Sabtu (07/02/2026), sebagai upaya membekali mahasiswa baru dalam menghadapi dinamika perbedaan di lingkungan organisasi.
Materi tersebut disampaikan oleh Kakanda Ari Maryadi, yang menjelaskan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bersama. Menurutnya, konflik kerap dimaknai sebagai perpecahan, pertikaian, dan pertentangan yang muncul akibat perbedaan pandangan maupun kepentingan.
Ia menjelaskan bahwa konflik sering muncul karena perbedaan karakter antarindividu. Dalam organisasi, mahasiswa akan bertemu dengan beragam tipe kepribadian, mulai dari yang pendiam, introvert, hingga yang sangat ekspresif. Perbedaan cara berpikir dan merespons persoalan inilah yang kerap memicu konflik, karena manusia hidup berdampingan dan tidak sendiri.
Lebih lanjut, Kakanda Ari Maryadi menekankan pentingnya peran pihak ketiga dalam penyelesaian konflik, terutama ketika konflik tidak dapat diselesaikan secara langsung oleh pihak yang berselisih.
“Dalam setiap konflik harus ada pihak ketiga yang dapat menjembatani kita, apalagi jika kita tidak memiliki relasi yang luas,” tuturnya.
Materi ini mendapat respons positif dari peserta. Salah satu peserta SINTESA, Zhafira, menyampaikan bahwa manajemen konflik membantu mahasiswa memahami cara bersikap saat menghadapi masalah di sekitarnya.
“Manajemen konflik adalah bagaimana cara kita mengelola konflik atau masalah yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh peserta lainnya, Agustian Dini, yang menilai bahwa konflik biasanya terjadi karena adanya perbedaan ide, gagasan, atau pendapat. Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya masalah, melainkan oleh kedewasaan dalam menyikapinya.
“Menyelesaikan sebuah masalah tidak melihat konflik itu besar atau tidak, tetapi bagaimana cara kita menyelesaikannya dengan pikiran dewasa,” jelasnya.
Melalui materi ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa konflik merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga maupun organisasi. Dengan kemampuan manajemen konflik dan negosiasi yang konstruktif, setiap perbedaan dapat dikelola secara bijak sehingga tujuan organisasi dapat tercapai tanpa merusak hubungan antarpersonal.
Reporter: Nur Afni

.jpg)