Pendidikan Pembebasan: Menumbuhkan Kesadaran Kritis dan Keberpihakan pada Kemanusiaan

 

PERSGRAMATIKA.COM.MAROS — Pendidikan pembebasan yang menekankan kesadaran kritis dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi fokus materi dalam rangkaian kegiatan SINTESA 2025 yang diselenggarakan oleh HIMAPRODI PBSI DEMA JBSI FBS UNM, Sabtu (07/02/2026)

Materi tersebut disampaikan oleh Kakanda Zulfikar Hafid, yang menegaskan bahwa pendidikan pembebasan hadir untuk membebaskan manusia dari cara berpikir pasif dan menerima keadaan tanpa refleksi kritis.

Dalam pemaparannya, Kakanda Zulfikar menjelaskan bahwa pendidikan pembebasan mengajarkan peserta didik untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial, khususnya berbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan yang masih terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan bahwa esensi utama dari pendidikan pembebasan adalah memanusiakan manusia, yakni melihat setiap individu sebagai subjek yang memiliki martabat, bukan sekadar objek dari sistem atau kekuasaan tertentu.

Lebih lanjut, Kakanda Zulfikar mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mengkritik keadaan, tetapi juga berani memulai perubahan dari diri sendiri. Menurutnya, kesadaran personal merupakan langkah awal dalam melawan penindasan.

“Jika ingin mengubah suatu penindasan, marilah mulai dari diri kita sendiri,” ungkapnya.

Diskusi kemudian berlangsung secara aktif dengan keterlibatan mahasiswa baru yang mengajukan berbagai pertanyaan kritis. Salah satu pertanyaan datang dari Muhammad Rifky, yang menyoroti sikap yang harus diambil ketika menyaksikan penindasan di lingkungan sekitar.

Menanggapi hal tersebut, pemateri menekankan pentingnya keberanian bersikap, empati, serta kesadaran kolektif dalam menghadapi penindasan. Ia menegaskan bahwa diam terhadap ketidakadilan berarti turut melanggengkan penindasan itu sendiri.

Melalui materi pendidikan pembebasan ini, mahasiswa diharapkan mampu membangun kesadaran kritis, keberanian moral, serta komitmen untuk menjadi agen perubahan yang berpihak pada keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan.


Reporter: Ria