Menyelami Luka yang Tak Tercatat: Bedah Buku “Kalajengking Bandaran” Angkat Realitas Sosial di Balik Perang

 

PERSGRAMATIKA.COM.MAKASSAR — Kegiatan bedah buku bertajuk “Kalajengking Bandaran” menjadi ruang reflektif bagi masyarakat PBSI dalam mengkaji nilai moral, sosial, dan kemanusiaan yang terkandung dalam karya sastra.

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom pada Jumat (10/04/2026) menghadirkan Kakanda Ardi Wina Saputra sebagai pemantik. Diskusi diikuti oleh Pengurus Himaprodi, Dewan Senior Himaprodi, masyarakat PBSI, serta beberapa peserta dari Program Studi PBI Universitas Madiun.

Dalam pemaparannya, Ardi Wina Saputra menegaskan bahwa sastra tidak pernah benar-benar terlepas dari realitas peperangan. Sastra, menurutnya, dapat berperan sebagai pemantik konflik, sekaligus menjadi instrumen untuk meredakan dan mengakhiri konflik tersebut.

“Ketika ego menjadi dasar dalam menginstruksikan perang, seringkali ada hal-hal penting yang justru dilupakan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa “Kalajengking Bandaran” mengisahkan tentang individu-individu yang terpinggirkan dalam situasi perang mereka yang tidak pernah tercatat dalam sejarah, namun memiliki kisah dan luka yang nyata. Simbol kalajengking dalam karya tersebut dimaknai sebagai metafora pertahanan dan keamanan, sekaligus menggambarkan kerasnya realitas yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya. 

Selain membahas isi karya, Ardi juga membagikan proses kreatifnya dalam menulis. Ia menyebutkan bahwa kenangan menjadi salah satu sumber utama motivasi, serta ketertarikan terhadap tema sejarah dan perang yang lahir dari preferensi pribadi dan eksplorasi literatur.

Ia juga menekankan bahwa dalam menulis sastra, penting untuk berangkat dari topik yang disukai, namun tetap memperkaya diri dengan berbagai referensi agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman.

Diskusi berlangsung interaktif dan penuh antusias dari berbagai kalangan peserta. Pertanyaan demi pertanyaan muncul, mencerminkan ketertarikan mendalam terhadap tema yang diangkat serta keinginan untuk memahami lebih jauh makna di balik karya tersebut. Interaksi yang terbangun pun menghadirkan suasana dialog yang hidup dan reflektif.

Salah satu peserta, Widya, mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan ini. 

“Diskusi ini membuka cara pandang baru bagi saya dalam melihat sastra, terutama bagaimana cerita-cerita yang tidak tercatat justru memiliki makna yang sangat dalam,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, terlihat bahwa sastra tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga menjadi ruang refleksi dalam memahami kehidupan, konflik, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali luput dari perhatian.


Reporter: Aliyah Suci Pradani NR